Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebut Rohingya sebagai kaum minoritas yang paling menderita persekusi di muka bumi dan menggambarkan kekejaman oleh aparat Myanmar sebagai “pembersihan etnis,” di mana satu kelompok melenyapkan kelompok etnis atau agama lain dengan menggunakan kekerasan.
Namun persekusi kaum Rohingya bukan hal baru. Penelitian saya mengenai pengalaman muslim Rohingya di Myanmar menunjukkan pola persekusi telah berjalan sejak 1948–tahun kemerdekaan Myanmar dari penjajahan Inggris.
Berikut sejarah tersebut secara singkat.
Warisan kolonialisme
Inggris menguasai Myanmar (dulu dikenal sebagai Burma) selama lebih dari satu abad, dimulai dengan serangkaian perang pada 1824.
Kebijakan kolonial mendorong penggunaan tenaga kerja migran untuk meningkatkan produksi padi dan keuntungan. Banyak orang Rohingya memasuki Myanmar sebagai bagian dari kebijakan ini pada abad ke-17. Menurut data sensus, antara 1871 dan 1911, populasi muslim meningkat tiga kali lipat. More...